CARI DI SINI !

Google

Saturday, April 23, 2011

PROBLEMA ANARKIS DIKALANGAN GENERASI MUDA



Topik diskusi kita saat ini sebenarnya dapat ditafsirkan sudah berbuat anarkhis, karena dapat dianggap/seakan-akan secara sewenang-wenang telah menuduh bahwa generasi muda itu berbuat atau selalu berada didomain yang beranah anarkhis. Sebenarnya anarkhisme itu yang paling banyak atau yang paling sering dilakukan oleh penguasa, oleh rejim, dan yang memiliki peluang justru seorang-orang atau lembaga yang sangat berwenang/berkuasa. Karena sewenagannya maka akan berbuat sekenanya atau setidaknya “se-enaknya” , hal inilah yang dapat dikategorikan berbuat anarkhis. Tetapi saya memandang bahwa judul yang diminta oleh panitia ini, karena di nuansai oleh beberapa fenomena kekerasan atau yang dianggap terkategorikan kekerasan, sedangkan pelakunya didominasi oleh oknum generasi muda. Pada hakikatnya dalam pandangan politik anarkhis itu, adalah tindakan/perbuatan kesewenangan dibalik sebuah otoritas. Anarkhis itu sering dilakukan oleh seorang-orang atau sekelompok orang yang superioritas kepada yang inferioritas. Tentunya hal ini yang terjadi pada terminologi dalam teori politik. Dalam diskusi ini lebih cenderung anarkhis dilihat sebagai sebuah fenomena kekerasan yang dilakukan oleh para oknum generasi muda, misalnya : · Demonstrasi yang brutal, merusak dan melontarkan kata-kata yang menyerang pribadi (character assignation). · Tawuran antar gang, tawuran antara pelajar, tawuran antar mahasiswa, dll. Dan dalam diskusi ini akan saya manfaatkan untuk iur pikir (share of information) terkaita dengan fenomena tersebut serta mencerai kesepakatan dalam memandang fenomena tersebut. Kemudian melalui forum dialogis dicarikan sebuah solusi cerdas, sehingga munculnya fenomena anarkhis khususnya di Propinsi Jawa Timur ini dapat diurai. MEMAKNAI ARKHISME Pada hakikatnya Anarkisme, adalah sebuah pemahaman yang mempercayai bahwa negara, pemerintah dengan otoritasnya adalah lembaga-lembaga yang hanya akan menumbuhsuburkan penindasan terdahap kehidupan. Oleh karenanya negara beserta perangkat-perangkatnya harus dimusnahkan. Anarki bertujuan untuk menciptakan masyarakat tanpa hirarki, karena dipercayai hirarki hanya akan menciptakan kekuasaan, dan kekuasaan akan melahirkan penindasan. Dalam pemahamannya, anarkisme banyak dikutip oleh berbagai media (terutama di Indoneisa) sebagai aksi kekerasan, namun hal ini sepenuhnya salah. Penganut anarkis adalah orang-orang yang mencintai kebebasan, menjunjung tinggi keadilan dan kesetaraan, serta cinta damai, tapi memang seorang anarkis dapat menggunakan cara-cara kekerasan demi mengaspirasikan haknya, hal itu dilakukan sebagai cara terakhir untuk melawan negara, ketika para kaum borjuis telah menerapkan kekuasaan fasistik dalam menjalankan kekuasaannya. Apabila kaum anarkis kebebasannya terbelenggu maka disitulah mereka akan bertindak, berdasarkan teori alam, setiap adanya suatu aksi maka akan timbul suatu reaksi yang sama atau bertentangan. Tapi kaum anarkis tidak hanya melakukan cara kekerasan, ada juga yang menerapkan cara-cara yang lebih damai atau lebih dikenal dengan istilah anarkis-pasifisme. Yang mengaspirasikan diri mereka melalui karangan bunga, puisi, lagu-lagu dan aksi non-kekerasan lainnya seperti yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi yang menentang pemerintahan Inggris guna mendapatkan kemerdekaannya. Seperti Martin Luther yang membela kaum kulit hitam atas penindasan kulit puti di Amerika Serikat. Kemudian mengapa pada jaman sekarang ini paham anarkis sering disebut sebagai istilah yang identik dengan aksi kekerasan?
PERGESERAN MAKNA ITU
Pergeseran makna ini telah terjadi bertahun-tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1886 di Chicago. Dimana pada saat itu terjadi demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh para kaum buruh menuntut pemerintah Amerika untuk menerapkan jam kerja standar pekerja, yaitu 8 jam. Saat itu memang Chicago adalah pusat dari gerakan anarkis di Amerika sehingga gerakan mogok buruh dimobilisasi oleh mereka. Demo yang dimulai pada tanggal 1 Mei 1886 berlanjut terus dan berlangsung damai sampai tanggal 3 Mei. Tapi pada tanggal 3 mei terjadi keributan antara kaum buruh dengan kepolisian Chicago. Entah kenapa, polisi Chicago menembaki para demonstran, ada minimal 6 buruh meninggal dunia ditembus peluru pada saat itu. Akibat dari peristiwa tersebut, kaum anarkis Chicago bereaksi dengan menyebarkan selebaran yang mengajak segenap kaum buruh untuk turun ke Plaza Heymarket keesokan harinya, yang peristiwa itu dikenal sebagai Haymarket Riot. Demonstasi yang dilakukan esok harinya oleh kaum anarkis dan buruh dimulai dengan damai. Seorang anarkis, August Spies tampil sebagai pembicara pertama. Sampai pembicara terakhir pun, demonstrasi tetap berlangsung damai, tapi entah darimana tiba-tiba ada bom molotov melayang ke arah polisi. Akibatnya, polisi lansung menembaki kaum buruh di Hymarket. Puluhan polisi menderita luka-luka dan minimal 8 dari mereka meninggal dunia. Kebanyan dari penderita luka akibat tembakan pistol. Setelah kerusuhan tersebut, 8 anarkis Chicago termasuk Spies ditangkap atas tuduhan pembunuhan. Lalu dimulailah proses pengadilan atas para anarkis itu, yang komposisi juri pengadilan terdiri atas para kaum kapitalis; pengusaha, rekan-rekan mereka, serta kerabat polisi. Tentu proses pengadilan yang penuh kongkalikong bukan? Bahkan sebelum pengadilan dimulai, negara tidak bisa menghadirkan bukti solid yang menunjukkan bahwa bom dilempar oleh kaum demonstran, dan begitu miris ketika hanya 3 dari 8 anarkis yang hadir pada saat demonstrasi, serta pengadilan tidak bisa membuktikan bahwa adanya pidato yang bertujuan memprovokasi yang dikemukakan oleh mereka kepada kaum demonstran. Pada tanggal 19 Agustus 1886, 7 anarkis termasuk spies divonis hukuman gantung, dan seorang diantaranya dihukum penjara 15 tahun. Tapi setelah mendapat tekanan dari dunia internasional, maka 2 dari 7 anarkis diberi pengampunan dan hanya divonis penjara seumur hidup. Karena tidak rela dirinya dibunuh oleh negara, salah seorang yang masih harus dihukum mati melakukan bunuh diri di dalam penjara 11 November 1887; Spies dihukum gantung bersama 3 anarkis lainnya, sekitar 600.000 buruh menghadiri pemakaman mereka yang telah dibunuh oleh negara. Setelah 6 tahun lamanya, negara dengan suci mengakui kesalahan mereka dalam mengeksekusi para anarkis. Hari itu, gubernur Chicago membebaskan 3 anarkis yang tersisa karena mereka tidak bersalah atas kerusuhan Haymarket. Penyelidikan-penyelidikan selanjutnya juga menunjukkan bukti bahwa bom di Haymarket justru dilempar oleh agen polisi yang menyusup di antara para buruh. Warisan dari gerakan buruh Amerika, khususnya Chicago, yang lebih dari 1 abad yang lalu itulah yang selalu kita peringati sebagai May Day atau Hari Buruh. Sejak saat itulah anarkisme identik dengan kekerasan. Media-media mainstream di Amerika, yang dikuasai oleh kaum kapitalis, langsung gencar mengkampanyekan anarkisme identik dengan pengeboman di Haymarket. Pemahaman anarkisme yang menjadi suatu hal yang sama sekali salah arah BAGAIMANA ANARKIS DI INDONESIA Nampak negeri kita telah mengikuti patron (pattern) dari apa yang terjadi di Chicago, bahwa anarkis itu identik dengan kekerasan dan kadangkala bukan dilihat dari kacamata jernih, bahwa luapan kekerasan itu adalah manifestasi dari sebuah reaksi. Ketidak puasan, mekanisme komunikasi yang buntu, tersumbat atau disumbat, bahkan ada indikasi “naïf” bahwa kekerasan dimunculkan hanya karena kepentingan. Anarkis di negeri kita seperti bola salju “ Snowball”, semakin lama semakin besar, karena masyarakat sangat “permisif”, semakin naïf ketika kekerasan tertangkap kamera televisi dan menjadi santapan pemberitaan. Televisi yang sering mengetengahkan liputan terkait dengan kekerasan justru secara significan dicari oleh pemirsa. Bahkan media cetak pun akan menayangkan hal tersebut. Realitas ini mengondisi terciptanya budaya baru, yakni bahwa solusi yang paling cepat mengurai masalah, jika dilakukan dengan cara-cara kekerasan. Kemudian juga terjadi budaya yang dapat diangggap aneh, karena masalah akan diurai, kalau telah muncul indikasi kekerasan. Sikap antisipatif, sikap proaktif lebih rendah ketimbang sikap reaktif. Mohon maaf diskusi ini dapat dikatakan reaktif, kalau hanya membicarakan data historis (expost facto)/masa lalu. Sebaliknya diskusi ini dikatakan proaktif, manakala difungsikan untuk upaya-upaya pencerahan sekaligus mencari jalan terbaik terciptanya penggulangan. KAPAN ANARKISME SELESAI Sampai saat ini belum ada resep yang paling ampuh, hanyalah pendekatan persuasi saja yang dapat meredam. Anarkisme akan mati dengan sendirinya ketika hak Asasi, demokrasi yang berbasis transparansi, keadilan, persamaan di munculkan. Keadilan yang mampu melemahkan anarkisme. Namun yang perlu diingat anarkis tidak akan lenyap secara permanen, seperti halnya konflik yang muncul secara laten. Ketika rasa keadilan terusik nadi anarkis akan secara otomatis bergerak, dan tidak hanya penumpang yang “berkarcis”, tetapi penumpang “gelap” yang sengaja mereguk kepentingan akan memperparah. SOLUSI Terkait dengan kebijakan, serta dari audience sasaran, maka solusi yang tepat dalam mengahapi anarkis adalah proses penyadaran, arahnya yang harus menjadi mentor adalah para Pembina generasi muda, atau setidaknya dari unsusr pemerintah yang membidangi generasi. Proses penyadaran (awareness) diawali dari pemahaman istilah yang satu ini. “Learning Process”. Generasi muda akan bisa berubah dan menerima pemahaman baru, tidak serta merta. Tapi perlu tahapan, dan pelaku perubahan itu adalah berawal dari para pembina generasui muda, atau instansi pemerintahan yang terkait dengan pembinaan generasi muda. Tahapan antara lain adalah, “Know”, “Believe”, “Attitude”, “Behavior”, “Habit” dan “ Culture”. Know: Semua stimuli dari akibat interaksi kita dan lingkungan, akan menjadi bahan dasar untuk mengetahui sesuatu, dan selanjutnya berfungsi untuk memicu munculnya perilaku. Workshop atau rapat koordinasi kali ini adalah wahana menstimuli, agar meransang munculnya perilaku baru. Yakni menerima atau menolak, bahwa anarkis dapat ditanggulangi, diredam dan dikendalikan Believe: Setelah kita mengetahui sesuatu yang baru, yang sudah disaring oleh keyakinan kita. Keyakinan yang bersumber dari nilai-nilai yang terbentuk di lingkungan. Jika hal itu bermakna, maka kita pasti menerimanya.Misalnya, Apakah jika anarkis itu diredam lebih member manfaat ketimbang mudhlarat. Attitude : Sinergi antara apa yang kita ketahui dengan apa yang kita yakini, dan akhirnya membuahkan perilaku. Mka setidaknya para Pembina generasi muda telah memiliki perilaku yang utuh terkait dengan anarkis, bahwa anarkis harus dapat dikendalikan. Behavior :: Perilaku yang ditampilkan oleh seorang Pembina generasi muda, adalah akumulasi dari Know, believe dan Attitude. Ketiga paduan tersebut, acapkali disebut sebagai “software”, sedangkan behavior adalah ‘hardwarenya” Jika seorang Pembina Generasi muda dalam memahami atau mencermati anarkisme tidak melalui proses know, believe, hingga attitude, maka bekerjanya akan setengah hati. Inilah yang akhirnya muncul sikap permisif, dan toleran terhadap kekerasan Habit : Perilaku yang didemonstrasikan secara konsisten adalah kebiasaan [habitual], merupakan bentuk kristalisasi perilaku. Jika hal ini terbentuk, maka semuanya akan menjadi jalan tanpa hambatan, Cultutre: Budaya adalah cerminan dari nilai-nilai yang diketahui dan diyakini. Budaya merupakan pemantapan dari kebiasaan [habitual]. Pada tahapan inilah, perilaku seorang-orang sudah melekat dan sulit untuk diubah kembali, kendati ada nilai-nilai yang baru.Pengalaman yang kita tarik dari pemahaman ini adalah, bahwa workshop ini, tidak serta merta langsung berubah budaya yang sudah membatu dan membeku. Namun tersimpan sebuah kesadaran, yang menyatakan bahwa workshop/rapat koordinasi kali ini adalah utaian dari “learning process” DIMULAI DARI PEMBINA GENERASI MUDA
MEMBANGUN ABILITY TO RESPONSE
“Pembina Generasi Muda juga manusia“. Manusia yang memiliki kemampuan untuk menanggapi adalah manusia yang mampu mengendalikan kehidupannya, sehingga dia mampu menentukan tindakannya sendiri. Terkait dengan Pembina genersi muda, maka dalam membangun citranya sedikitnya, ada lima kemampuan yang harus dikantongi. Kemampuan-kemampuan itu adalah
  • Ability to fact [kemampuan memahami fakta]
  • Ability to basic knowledge [kemampuan memahami dasar-dasar pengetahuan]
  • Ablity to evaluation [kemampuan mengevaluasi]

  • Ability to analysis [kemampuan analisis]
Ablity to response [kemampuan menanggapi]. adalah kemampuan yang muncul, akibat kemampuan-kemampuan lainnya, seperti: kemampuan memahami fakta; kemampuan memahami dasar-dasar pengetahuan, kemampuan evaluasi dan kemampuan analisis] Ability to fact [kemampuan memahami fakta]; Jika kemampuan ini telah ada pada diri seorang pembinan generasi muda, maka pengalaman empirinya yang akan mengendalikan apakah sesuatu itu yang diterima inderanya memiliki nilai-nilai manfaat. Jika hal itu tidak menjadikan sebuah ancaman bagi dirinya, dan justru memiliki manfaat besar bagi dirinya, maka akan diterimanya. Apakah Anarkis yang terjadi pada generasi muda itu, sebuah ancaman bagi eksistensi para Pembina generasi muda, atau setidaknya dalam berbangsa dan bernegara? Ability to basic knowledge [kemampuan memahami dasar-dasar pengetahuan] Pemibina Generasi Muda hampir semuanya telah memiliki kemampuan ini, tidak ada seorang pun yang mengatakan tidak. Semua Pembina Generasi Muda telah memilikinya, telah menyadarinya, dan merupakan bagian dari fungsi kerjanya. “Jika” selalu diikuti “Maka”. Jika seorang Pembijna Gemnerasi Muda enggan mengambil langkah antisipatif yang cepat akurat, maka akan disisihkan oleh zaman. Ability to evaluation [kemampuan mengevaluasi] Kemampuan ini adalah, bagian yang melekat pada profesi Pembina generasi muda. Setiap berpikir bertindak, dan berperilaku selalu mengedepankan kemampuan ini. Tentunya ketika menjalankan fungsinya, seorang Pembina Generasi Muda selalu memberikan pertimbangan akan manfaat, dan keruginya. Menimbang kemungkinan risiko yang dihadapinya. Ability to Analysis [kemampuan analisa] Merupakan kemampuan dalam mengurai permasalahan secara detil, dan menggunakan berbagai dimensi ketika memandang sesuatu masalah. Pembina Generasi Muda sadar atau tidak telah lama melakukan pembinaan berbasis analisis. Ability to response [Kemampuan menaggapi] Adalah kemampuan yang muncul, akibat kemampuan-kemampuan lainnya, seperti: kemampuan memahami fakta; kemampuan memahami dasar-dasar pengetahuan, kemampuan evaluasi dan kemampuan analisis. Bagi seorang Pembina Generasi Muda, kemampuan mananggapi berkaitan dengan problema anarkis adalah memberikan pencitraan sebagai Pembina antara lain: 1. Kemampuan dalam memahami kompetensi [competency] 2. Kemampuan untuk meciptakan visi [Vision] sebagi harapan dan cita-cita 3. Kemampuan untuk memberikan makna pada hidupnya yang diwujudkan dalam bentuk pemaknaan misi [Mission] hidupnya 4. Kemampuan menggunakan kompetensinya untuk mewujudkan visi dan misinya dalam bentuk strategi yang dijalankan 5. Kemampuan menterjemahkan strategi sebagai aksi. PENUTUP Dalam pengendalian tindakan “anarkis”atau kekerasan tidak berdiri sendiri (atomistic), tetapi menyeluruh (holistic). Semua yang memiliki keterlibatan (stakeholder) harus memiliki visi yang sama, kemudian semua disiplin ilmu dilibatkan. Adapun yang sangat memiliki kontribusi terbesar antara lain: 1. Pendidikan Karakter (Character Building) 2. Keteladanan (Ada adigium yang mengatakan, Verba movent-Exempla manent) 3. Situasi lingkungan yang menyenangkan
*Bahan paparan ini banyak diambil dari dunia maya/internet
**Sasaran paparan (audience), para Pembina Generasi Muda, atau pengambil kebijakan terkait generasi muda
***djoko adi walujo: Salah satu anggota dewan pendidikan propinsi jawa timur, mantan anggota dewan Pembina perpustakaan masjid propinsi jawa timur, mantan wakil ketua PGRI propinsi jawa timur, mantan Gugus Pemikir Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan (YPLP-PGRI) pusat, sekretaris ISPI- Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia propinsi jawa timur, sekretaris badan penyelenggara Universitas Adi Buana Surabaya, Pengurus Pusat Persatuan Alumni GMNI, wakil ketua Partai GOLKAR propinsi jawa timur bidang seni dan budaya. Memiliki International Certificated untuk pelatihan guru-guru zone Asia-Pacific, sedang menyelesaikan doctor business administration di JOSE RIZAL UNIVERSITY OF PHILIPPINA..

Wednesday, April 6, 2011

KAYA SEJAK MAHASISWA!

Rupanya buku ini mencobo menginspirasi kawula muda agar tidak tidur yang tak menghasilkan mimpi. Yakni mimpi yang akan diwujudkan dalam ranah aktivitas yang full kreativitas. Buku ini menempatkan dirinya sebagai alat "provokasi", tapi provokasi dalam arti memberikan dorongan keras agar mahasiswa mampu bertindak cerdas. Melalui contoh kisah sukses, diharapkan juga tumbuh sukses. Cocok untuk referensi para pembina kemahasiswaan, agar mahasiswa tidak hanya pandai dalam sekolah namun sisi baliknya adalah pandai yang plus-plus. Artinya sejak mahasiswa sudah mulai karya.

Friday, January 28, 2011

BINA KARAKTER BANGSA


PENGANTAR:

K

ecenderungan dan fenomena sosial yang berkembang akhir-akhir ini memerlukan tingkat kewaspadaan tinggi dari seluruh masyarakat Indonesia. Kondisi ini mendorong setiap komponen bangsa termasuk warga bangsa yang berada di lingkungan perguruantinggi kembali merenungkan secara mendalam tentang hakikat dan dasar‑dasar fundamental kehidupan bangsa ini. Kita kembali mempertanyakan tentang pola pikir, sikap, dan nilai‑nilai serta pandangan hidup yang kita anut.

Bangsa ini membutuhkan pembentukan karakter dan watak, yaitu :

Pertama, karakter bangsa yang bermoral (religius) Bangsa ini harus sarat dengan nilai‑nilai moral dan etika keagamaan sebagai sebuah pandangan dan praktek.

Kedua, karakter bangsa yang beradab. Baradab dalam arti luas menjadi suatu bangsa yang memiliki karakter berbudaya dan berperikemanusiaan.

Ketiga, karakter bangsa yang bersatu. Didalamnya termasuk menegakkan toleransi. Tidak mungkin kita bersatu tanpa adanya toleransi, harmonis dan bersaudara.

Keempat, karakter bangsa yang berdaya Dalam arti yang luas, berdaya berarti menjadi bangsa yang berpengetahuan (knowledgeble), terampil (skillful), berdaya saing (competitive) secara mental, pemikiran maupun teknis. Daya bukan sekedar dalam arti materi dan mekanik, melainkan dalam makna secara mental, hati dan pikiran kita; yakni state of mind. Kelima, karakter bangsa yang berpartisipasi. Partisipasi amat diperlukan untuk menghapus sikap masa bodoh, mau enaknya saja, dan tidak pernah peduli dengan nasib bangsa. Karakter partisipasi ini ditandai dengan penuh peduli, rasa dan sikap tangggungjawab yang tinggi, serta komitmen yang tumbuh menjadi karakter dan watak bangsa kita.

Dari realitas ini, maka diharapkan segenap komponen bangsa bahu membahu untuk mengambil peran, sesuai dengan jati diri atau perannya sebagai kader bangsa, yakni sebuah peran yang strategis karena fenomena tersebut diatas sangat relevan sekali. Melalu kegiatan Kuliah Kerja Nyata, maka mahasiaswa yang note bene sebagai kader bangsa, mampu mengaplikasinnya.

MENGAPA MAHASISWA HARUS BERPERAN DALAM PEMBANGUNAN KARAKTER?

U

paya membangun kembali karakter dan pilar bangsa harus disertai dengan upaya membumikan etika, yaitu etika polit1k, etika social, etika militer, maupun etika internasional. Etika politik, etika bisnis, etika sosial, dan etika militer harus kita bangun bersamaan dengan berbagai ikhtiar bangsa dan negara dalam menata dirinya. Sementara itu , dalam etika internasional kita harus lebih banyak berjuang, karena dunia dan sistemnya menampilkan ketidakadilan. Kita melihat adanya kapilatisme global dan system keuangan global yang menghadirkan hukum dan logika yang asing dan kadang terasa tidak adil. Kita ikut berpartisipasi aktif bersama bangsa‑bangsa lainnya dalam membangun etika internasional yang lebih adil dan etis. Negeri ini juga memerlukan konsep keseimbangan. Di tengah kehidupan bangsa yang amat majemuk, plural, dan heterogen, konsep keseimbangan ini semakin penting. Mustahil kehidupan bangsa yang demikian multiragam segalanya menjadi serbaragam, hanya berorientasi pada satu sisi semata. Kita membutuhkan keseimbangan antara hak dan kewajiban; antara kebebasan dan tanggung jawab, dan antara kebebasan dan pranata atau aturan yang berlaku.

lkhtiar untuk menghayati dan mendasarkan pandangan, wawasan, dan pemikiran pada karakter bangsa yang kita anut dan berpegang pada pilar‑pilar kehidupan bangsa akan

melahirkan world view, pandangan dunia dan hati nurani dalam mencermati banyak masalah di sekitar pikiran, sikap, dan lingkungan secara luas. Dengan keras bangsa ini menolak beberapa prinsip hidup yang selama ini mungkin dianggap lumrah oleh sebagian orang namun mungkin juga dipandang tidak adil bagi yang tidak diuntungkan oleh prinsip itu.

Beberapa prinsip yang saya maksud adalah:

  • The wi nner takes all,
  • The survival of the fittest,
  • Unlevel playing field,
  • Free fight liberalism,
  • The end justify the means,
  • fight against,
  • Xenophobia,
  • Friend or Foe, dan
  • Absolutness.

The winner takes all berarti pemenang akan menguasai segalanya. Siapa yang berkuasa dalam sebuah negara, ia menyikat habis siapapun kecuali bagi kepentingan kelompok, kroni, golongan ataupun keluarganya. Tidak pandang bulu, lawan politiknya tidak diberi kesempatan untuk hiclup. Siapapun yang berbeda, apalagi yang dipandang berlawanan dianggap sebagai musuh karenatidak pernah tumbuh kebutuhan untuk saling berbagi. Sebenarnya, kita tidak punya pilihan lain kecuali harus membuka diri dan berkeinginan saling berbagi dengan sesama.

Demikian juga prinsip The survival of the fittest. Pandangan ini merupakan pola kehidupan yang menggunakan hukum rimba bahwa yang kuat pasti menang. Prinsip ini tentu mengandung penindasan dan kezaliman, melemahkan dan memperlemah. Dengan sendirinya, hanya yang kuat yang akan tetap hidup dan berkembang.

Unilevelplaying field juga pandangan yang perlu kita jauhkan. Persaingan tanpa ada unsur kesetaraan tidak akan membuahkan keadilan. Yang ada hanyalah penindasan terhadap yang lemah, atau memperlemah yang lemah. Wilayah permainan yang tidak seimbang, tidak setingkat akan menjadi ajang penindasan. Tidak mungkin kita mempersaingkan antara penguasa besar dan penguasa gurern, penguasa lemah dalam suatu persaingan bisnis, misalnya. Perlu ada lapangan kompetisi yang adil dan sejajar, arus ada kesetaraan.

Absolutness, suatu pikiran dan sikap yang serba mutlak. sagalanya dinilai hitam atau putih. Sikap ini akan menampilkan intoleransi, antidialog dan antikompromi dan sekaligus ketidakramahan pada orang lain. Hanya dirinya ataupun kelompoknya yang paling benar; sedangkan, lainnya salah. Sikap ini harus kita. buang jauh‑jauh. Absolutisme akan melahirkan pemikiran free fight liberalism yang juga amat bertentangan dengan keadilan dan nilai kernanusiaan. Dalarn rinsip tersebut kebebasan adalah demi kebebasan, kebebasan tanpa batas.

The ends justify the means berarti prinsip yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan sebagai pengaruh dari sikap memutlakan segala sesuatu. Di dalamnya juga terkandung semangat Machiavelli. Kita sering terjebak dalarn prinsip To the greates good for to the greates people, sepanjang untuk kebaikan bagi yang terbesar bangsa ini. Maka segala sesuatu bersikap baik, benar, dan halal. Tentu saja pemikiran semacam ini sebaiknya dihindari.

Dalam pergaulan antar sesama dan antar bangsa, sikap absolutisme berpengaruh pada sikap hidup mencari lawan dan musuh. Kita sangat mengecam pandangan dan sikap fight against, hidup mencari musuh. Tindakan yang ada hanyalah menyebarkan semangat permusuhan dan hanya mencari lawan. Yang kita cari hendaknya fight for. tidak kita tidak suka dengan kesenjangan, kemiskinan, dan penindasan. Karenanya kita harus mencari daya untuk menegakkan demokrasi dan keadilan. Hampir senada. dengan itu, prinsip Friend or Foe perlu kita jauhi. la. merupakan cara pandang dan pikiran yang hanya melihat kawan atau lawan, kita atau bukan kita. Dengan sikap ini setiap orang telah menjadi pribadi yang terbelah, tidak utuh lagi. Yang lebih baik adalah kita memilih pernain dengan sparring partner, lebih baik siapa yang menantang. Demikian halnya dengan oposisi yang tetap kita perlukan. Tetapi, masyarakat atau rakyat harus diuntungkan oleh proses "pertandingan" itu. Bukan pertandingan antara pernerintah dan kelompok oposan yang meruaikan dan menvenasarakan rakvat karena semuanva hanya berupaya untuk mengalahkan lawan, semangat saling meniatuhkan.Pandangan dan sikap the might is right mesti kita ubah. The might is right menunjukkan bahwa yang berkuasa. pasti benar. Pandangan ini menjadi bagian dari sikap absolutisme dan otoritarianisme. Amatlah berbahaya jika pandangan ini dimiliki oleh para pernimpin sehingga akan muncul sikap otoriter, diktator, dan dogmatisme. Sebaliknya lebih berbahaya jika sikap ini dimiliki masyarakat yang dipimpin; karena akan muncul sikap taklid, kultus kekuasaan dan fanatisme. Dan kontrol masyarakat lemah, sementara para pemimpinnya terbiasa berjalan tanpa kendali. Karena itu pula kita mengutuk suatu pikiran, sikap dan tindakan yang mengacu pada prinsip, Im the sword, / kill the weak, yang berarti sayaadalah pedang, saya bunuh yang lemnah. Sikap ini jauh dari sikap patriotisme,keramahtamahan, dan utarnanya bertentangan dengan jiwa musyawarah dan kerakyatan Xenophobia yaitu perasaan benci terhadap yang serba asing. Ada penolakan secara ekstrim terhadap hal yang serba baru dan asing. Penyakit inimalah akan mengasingkan para.pengidapnya dari segala hal yang inovatif dan baru yang mungkin lebih maju. Kita perlu mernelihara rasa benci terhadapketidakadilan, berbagai jenis kolonialisme baru,termasuk carnpur tangan yangberlebihan dari negara lain dan dunia luar terhadap kepentingan bangsa. Tetapi, kita tidak perlu mengabaikan segala perubahan dan hal yang baru yang ternyata membawa kemaslahatan.Posisi negara kaitannya dengan masalah penataan ketertiban dan kehidupan hukum perlu dilandasi pernikiran dan pandangan yang lurus dan seimbang. Tidak mungkin kita menerima prinsip etatisme.Etatisme merupakan sentralisasi yang mutlak sehingga negara harus mengatursegalanya. Etatisme jelas akan mernatikan kreativitas dan prakarsa masyarakat. Kita perlu menempatkan secara tepat negaradalarn koridor the commanding hight Hanya masalah makro,ini yang mernang dipandang penting untuk diatur. Segala hal yang bersifat mikro diserahkan pada pasar. Karenanya,masalah penerapan regulasi dan deregulasi harus tepat dan benar. Regulasi dapat diberlakukan untuk ketertiban,melindungi yang lernah, dan derni keadilan, bukan sernata derni hukum. Deregulasi juga dilakukan untuk menghilangkan

(tulisan ini menyontekl pikiran SBY, diunggah karena perlu dan cantik---menurut cargo)

.

Tuesday, January 19, 2010

JANGAN MAU JADI MAHASISWA BIASA!

Buku ini menyikapi kejadian nyata di republik ini, ternyata banyak ditemui mahasiswa yang miskin pergaulan tepatnya "kuper"-kurang pergualan. Seperti kacamata kuda, yang mengantar jalan lurus tidak tengok kanan- tengok kiri. Mahasiwa itu harus multi gaul menurut buku ini, setidaknya kua untuk bermasyarakat di plus-pluskan. Namun harus diingat bahwa over dosis pergaulan juga dapat menghambat ke garis tamat. Alamat jadi mahasiswa Abadi. Buku ini menjual obral konsepsi, atau solusi bagaimana mahasiswa lulus cepat, tapi bermartabat, dan banyak sahabat.

Wednesday, May 27, 2009

GAYA KERJA DALAM PPT [TAYANGAN BARU]


Ingat, selama ini melalui LKMM-Latihan Ketrampilan Manajemen bagi Mahasiswa selalu diputar ulang materi pelatihan "Gaya Kerja". Nampaknya materi ini sudah membatu dan juga belum disentuh inovasi atau barangkali materi ini memiliki nilai durabilitas yang tahan terhadap cuaca kadaluarsa. Cargo ingin membantu para pembina/pemandu untuk menyediakan bahan tayang [Power Point] "Gaya Kerja"[klik !!!]

Tuesday, May 12, 2009

STRATEGI MAHASISWA MENJADI PENGUSAHA

MENUJU ENTREPRENEUR STUDENT
Saatnya Anda merubah nasib, jangan mau jadi mahasiswa miskin dan bokek, cewek takkan melirik.
Dengan Optimisme dan terus belajar kita akan mampu mencapai ciata-cita
BCA- Bambang Cahyono Al jadi, penulis buku ini membakar semnagat para mahasiswa bukan untuk ujuk rasa tapi unjuk kerja. Terpapar dengan gaya memotivasi setengah memprovokasi agar mahasiswa mampu menggerakan elan vitalnya menuju ranah yang paling bermanfaat.
Data buku
JUDUL: Strategi Mahasiswa Menjadi Pengusaha
PENULIS: Bambang Cahyono Al jadi
PENERBIT: Sabda Media Blok III Negstiharjo Wates Kulon Progo Yogyakarta. E-Mail sabdamedia007@yahoo.co.id
CETAKAN: I- Januari 2009
ISBN: 978-157012-1
TEBAL: vii + 121
Yang dibahas buku ini:
Bab I - Entrepreneur Intelegence
Bab II - Ciri Seorang entrepreneur
Bab II- Peluang Usaha
Bab IV - Kiat Mahasiswa Memulai Usaha
Bab V - Mengenal Franchise atau Waralaba
Bab VI- Strtegi Pemasatran
Bab VII- Mendirikan Perusahaan
.......Buku ini banyak mengupas tentang waralaba, dan menurut buku ini waralaba adalah bisnis yang paling dekat dengan karakter usia mahasiswa.