CARI DI SINI !

Google

Tuesday, March 25, 2008

KREATIVITAS

Disampaikan pada “Pelatihan Penulisan Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa”
Univesitas PGRI Adi Buana Surabaya
Oleh
Djoko Adi Walujo

KREATIVITAS
PENGANTAR

Sering kita membicarakan masalah kreativitas, namun ketika harus dipaksa untuk mendefinisikan ternyata tidak dijumpai definisi yang memuaskan. Sering orang memaksakan sebuah definisi yang akhirnya cenderung mengaburkan makna kreativitas itu sendiri. Seperti halnya yang saat ini saya tulis, untuk menghindari dari kekaburan makna tersebut, maka tulisan ini hanya menampilkan indikator dari sebuah kreativitas. Tulisan ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran David Campbell, Phd, dalam bukunya yang berjudul “take the road to creativity and got off your dead “ dan dilakukan tambal sulam dengan berbagai pustaka yang bergayut dengan masalah kretivitas.
Kreativitas selalu ditandai dengan tiga hal yang dapat dikatakan sebagai indikator,yakni :
Pertama kebaharuan [novelty], inovatif, orang sering mengatakan bahwa sesuatu yang belum ada dan yang mendahuluinya, juga dapat dikatakan sebuah kemampuan untuk menemukan hubungan-hubungan baru, atau meneropong suatu hal dari sudut pandang atau perspektif baru,aktual, menarik, unik, mengejutkan.
Kedua memiliki nilai manfaat [useful], nilai kemudahan [easy use] lebih enak, sangat praktis, memperlancar, mendorong, mengembangkan, mendidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil lebih baik, atau lebih banyak.
Ketiga dapat dimegerti [understandable], memberikan wahana baru namun setiap orang dapat menikmati kehadirannya.

KAPAN SEBUAH KREATIVITAS HADIR

Sebuah kreativitas akan hadir pada dimensi ruang yang diselimuti oleh suasana yang khusus, yakni suasana yang melahirkan :
Desakan untuk maju:
Arus kuat dalam wujud desakan untuk maju secara terus menerus tiada henti, sehingga keadaan ini membuat orang berbuat apa saja.


  1. Pengalaman adalah bahan bakar pemicu ide:
    Pengalaman yang dialami sendiri merupakan bahan bakar yang terkaya, karena pengalaman ini cenderung selalu tersimpan pada long term memory dan akan muncul/retensi pada saat diperlukan. Pengalaman akan menghidupkan imaginasi kita. Membaca, mendengarkan tidak sehebat pengalaman langsung
  2. Hobi dan kesenian dapat membangkitkan kreativitas;
    Kebanyakan dari hobi kita ini berkaitan dengan bagaimana mendapatkanya, bukan bagaimana menciptakannya. Hobi mengumpulakan atau koleksi adalah tahap awal dalam merangsang imaginasi. Kemudian bidang seni juga memberikan peluang besar untuk pengembangan kreativitas. Dalam seni musik, rupa, tari dan teater imajinasi sangat diperlukan.
  3. Jalan buntu :
    Bila seorang-orang dihadapkan pada sitausi yang mencekam, terjepit oleh masalah yang berat “kepepet” akan mengantarkan orang berbuat sesuatu, “berbuat sesuatu” itu, adalah wujud dari sebuah kraetivitas. Karena situasi ini secara langsung memiliki daya pemicu
  4. Bacaan penyubur kreativitas
    Bacaan memberikan makanan imajinasi, utamanya buku-buku fiksi, menurut Henry Emerson Fosdick bacaan yang paling bermanfaat adalah bibiliografi karena didalamnya selalu memuat riwayat sepintas tokoh pencetus ide, yang memberikan kemungkinan mengatrol semangat untuk menjadi pencetus ide

TAHAP-TAHAP KREATIVITAS


  1. Persiapan [preparation]
  2. Konsentrasi [concentration]
  3. Inkubasi [incubation]
  4. Iluminasi [illumination]
  5. Verifikasi [verification]

Persiapan :
Meletakkan kerangka dasar dengan mempelajari latar belakang sebuah masalah, seluk-beluk dan problematik. Terdapat kata-kata bijak yang mengatakan bahwa sebuah kreativitas lahir disebabkan oleh “minat”. Tidak adah hal besar yang dapat tercipta , bial tidak ada “entusiasme”. Untuk menciptakan yang besar kita harus memiliki mimpi yang indah “vision”, sebuah mimpi akan menjadikan bintang pengarah menuju pulau kreativitas.

Konsentrasi :

Memikirkan secara penuh utuh menyeluruh, masalah-masalah yang dihadapi sebuah keniscayaan. Seorang-orang yang larut dalam satu masalah tertentu akan memiliki detil-detil pencermatan sehingga segenap

Inkubasi :
Memposisikan diri untuk meninggalkan beberapa masalah sejenak untuk melepaskan kejenuhan, karena kejenuhan juga merupakan faktor prnghambat proses kreativitas.
Keadaan inilah yang kemungkinan besar akan menstimuli sebuah imaginasi yang penuh kebaharuan

Iluminasi:
Sebuah tahapan yang mapan dalam proses kreatif, karena beberapa masalah telah gamblang . Ide gagasan, pemecahan, penyelesaian, cara kerja, jawaban baru telah tertata. Keadaan inilah yang kadang dapat dijadikan modal dasar untuk melangkah pada kreasi kreasi lanjut. Bahkan beberapa fenemona yang telah ada menunjukkan bahwa proses kreatif sering terlahir dari orang-orang yang sama, bagaikan lompat dari batu yang satu ke batu lainnya.

Verifikasi/produksi
Tahapan verifikasi atau produksi sering dimakana “finishing goods” produk akhir dari proses kreatif. Tahapan ini yang meberikan tanda dari serangkaian proses kratif, namun demikian keadaan ini sangat tergantung dari seorang-seorang yang menjalankannya. Dan titik kepuasan tertinggi merupakan terminal akhir dari perjalanan proses krreatif seorang orang.

CIRI-CIRI UTAMA

  • Kelincahan mental [mental agility]
  • Berfikir ke segala arah [divergent thinking]
  • Flesibilitas konseptual [conceptual flexibility]
  • Originalitas [originally]
  • Lebih kearah kompleksitas daripada simplisitas
  • Latar belakang yang merasang [stimulating background]
  • Kecakapan ganda [ multiple skills]

CIRI-CIRI PENDAMPING

  1. Kemampuan kerja keras [capacity for hard work]
  2. Berpikir mandiri [independent judgement]
  3. Tidak putus asa [ resilience]
  4. Mampu berkomunikasi [good communicators]
  5. Lebih tertarik pada konsep daripada masalah masdalah yang sumir [interested more in concepts than in details]
  6. Keinginan tahu [ intellectual curiosity]
  7. Adanya rasa humor dan fantasi [ sense of humor and fantasy]
  8. Mencari unsure yanbg menarik [interesting]
  9. Arah hidup yang jelas [sense of density/sense of mission]

SITUASI YANG KONDUSIF MELAHIRKAN KREATIVITAS

  1. Kejujuran [honesty]
  2. Penghargaan pada mutu [appreciation of quality]
  3. Keinginan tahu [intellectual curiosity]
  4. Ambisi yangh sehat [healthy ambition]

Kejujuran :
Inti dari sebuah kreativitas jika sebuah kejujuran dijunjung tinggi, karena kreativitas memerlukan dukungan ini. Alasan yang mendasar karena ada kecenderungan orang dengan mudah meniru dan menggandakan. Originalitas hatrus di proteksi.

Penghargaan pada mutu:
Penghargaan pada mutu adalah ladang subur tumbuh kembangnya kreativitas, tanpa adanya penghargaan mutu orang cenderung menarik diri untuk berjalan pada kondisi normal, tanpa melakukan lompatan-lompatan ke depan.
Imaginasi akan berkembang pada koridor ini, sehingga orang tidak akan melakukan


Keinginan tahu:
Seorang-orang yang kreatif mempunyai keinginan tahu yang tidak habis-habisnya, ibarat pantai pantang surut airnya. Keinginan tahu selalu jadi pintu gerbang bagi orang berbuat yang menggoncang dunia.

Ambisi yang sehat.
Tidak hanya sekedar ingin tapi sudah bagian dari hidup seorang yang memiliki ambisi sehat, yang secara terus menerus menambah deretan keinginan. Ambisi sehat bagaikan air bah yang sulit untuk dibendung .

RUJUKAN YANG DIGUNAKAN

  • Charles Panati [1988]. Breakthroughs
  • David Champbell [1965]. Take the road to creativity get your dead end, Argus Communications, 7440 Natchez Avenue, Niles, Illinois 60648, USA
  • Maswan dan Sulaiman Sahlan[1989]. Mengungkap tabir“ Imajinasi dan Ide Manusia” Penerbit Sinar Baru Bandung.

Sunday, March 16, 2008

"ICEBREAKER" PIRANTI BAKU PEMANDU

[Sebuah buku dengan tajuk “Cara Pintar Jadi Trainer” yang dikreasi oleh Chrissogonus. D. Pramudyo, membahas problema pelatihan, yang acapkali beku. Menurutnya obat penawar yang paling jitu adalah icebreaker atau pemecah suasana hampa. Disamping sangat manjur, juga harganya terjangkau alias EER [efektif, efisien dan rasional]. Sudah menjadi garis tangan, yang namanya icebreaker selalu melekat pada ingatan para pemandu/pelatih, atau pembina mahasiswa ----[hlm 125:138]. ]
Sesuai dengan sebutannya icebreaker adalah suatu cara ubtuk memecahkan suasana yang dingin, beku, dan kaku menjadi hangat, mencair, dan rileks. Sebab, kebekuan akan menjadi factor pencegah berlangsung proses belajar, sehingga peserta tidak termotivasi
Kehangatan suasana sangat kondusif menciptakan atmosfir belajar, dan dengan tidak terasa proses belajar mengalir seperti air.
Terminologi:
Icebreaker
didefinisikan sebagai “a fun way to support the objective of presentation [Svendsen, 1996]. Bahkan hampir dipastikan semua aktivitas manusia memerlukan kehadiran icebreaker. Ada dua maksud penggunaan :
Pertama: membuat peserta saling mengenal dan akan menghilangkan jarak mental sehingga suasana menjadi benar-benar rileks, cair dan mengalir.
Kedua: mengarahkan atau memfocuskan peserta pada topic pembahasan/pembicaraan.
Selnjutnya icebreaker dapat pula digunakan sebagai daya pembangkit [energizer].
Fungsi lain icebreaker
  1. Menghidupkan peserta. Hal ini terutama dilakukan bila peserta menenujukkan gejala bosan, jenuh, capai atau mengantuk.
  2. Memotivasi pesera untuk tetap segara ke sesi berikutnya. Cara ini merupakan cara efektif untuk menjebatani antara satu topic ke topic berikutnya. Dengan icebreaker peserta akan lebih mudah masuk ke dalam topic yang akan dibicarakan
  3. Membantu memahami masalah. Dengan suatu permainann yang lucu, menarik, dan menyenangkan, peserta akan lebih mudah memahami permasalahan yang dibahas
  4. Mempercepat proses pembelajaran. Ini berkaitan dengan poin di atas. Apabila peserta lebih mudah memahami permasalahan, mereka akan lebih cepat belajar.
  5. Membantu memahami orang lain. Beberapa Icebreaker dirancang untuk melibatkan peserta dan membuat interaksi yang tinggi antar peserta. Dengan terlibat dalam permainan, peserta akan tertolong dalam memahami peserta lain, baik pola pikir, sikap, sifat, maupun perilaku.
Catatan penting pemakaian Icebreaker:

  • Sebelum mempraktikkan, hendaknya seorang pemandu/pelatih, melakukan uji coba, dengan ujicoba akan diketahui secara pasti waktu yang dibutuhkan, bahkan melihat secara cermat antara kesesuaian materi icebreaker dengan materi penataran.
  • Dihindari perilaku yang menganggap, bahwa icebreaker adalah sarana pembunuh waktu, atau pengisi waktu luang. Namun lebih diarahkan kepada pembangitan motivasi [energizer]
  • Dalam melakukan icebreaker perhatikan kaidah WARUNG JAMU [ WAktu-RUaNG-JumlAh-dan-Mutu].
    Waktu : Kapan kita harus mempraktikan icebreaker
    Ruang : Pada dimensi apa kita berikan,
    Jumlah: Untuk berapa peserta
    Mutu : Tujuan apa yang diinginkan.
Buku Utama:

  1. The Biig Book of Sales Games. Karya Peggy Carlaw dan Vasudha Kathleen Deming. Terbitan Mcgraw-Hill tahun 1999.
  2. 100 Traning Games, Karya Gary Krohnert. Terbitan McGraw-Hill tahun 1992
BUKU VERSI INDONESIA
JUDUL : Ice Breaker [Don’t Be Tegang !!] untuk pelatihan manajemen
PENGARANG : Dr. Adi Soenarno, MBA
PENERBIT : CV. ANDI OFFSET [Penerbit Andi] Jl. Beo 38-40 [0274] 561881 [hunting]. Yogyakarta 588282
CETAKAN : 1 2007
ISBN : 978- 979-29-0182-5
JUMLAH HALAMAN: viii + 248 hlm: 14 x21 Cm.
[“Don’t Be Tegang, dalam buku ini dimaknakan bagaimana merawat sebuah pelatihan agar tidak masuk dalam atmosfir “ketegangan”. Ketegangan akan menghadirkan bentuk penolakkan secara langsung maupun tidak langsung, dan pada gilirannya tujuan pelatihan akan terkikis oleh suasana ini. Kehadiran ketagangan menurut buku ini acapkali dipicu oleh:
1. Pembicara tegang
2. Tidak ada rasa humor
3. Cara membawakan materi tidak menarik
4. Ungkapan opembicara yang disampaikan monoton
5. Disampaikan dalam suasana yang tidak tepat [mood jelek], dalam kondisi lelah, kantuk atau sedang sibuk, tetapi dipaksakan hadir mengikuti suatu forum
6. Materi yang disanpaikan tidak jelas
7. Suara terlalu pelan atau terlalu keras
8. Metode penyampaian tidak sistematis
9. Tempat Training tidak kondusif, dan
10. Waktu pelaksanaan terlalu lama.
Dalam buku ini terdapat 31 bentuk permainan untuk ice breaker]

JUDUL : Ice Breaker [Permainan Atraktif-Edukatif] untuk pelatihan manajemen
PENGARANG : Dr. Adi Soenarno,MBA
PENERBIT : CV. ANDI OFFSET [Penerbit Andi] Jl. Beo 38-40 [0274] 561881 [hunting]. Yogyakarta 588282
CETAKAN : 1 2005
ISBN : 979-763-040-4
JUMLAH HALAMAN: x + 150hlm: 14 x21 Cm.
[Buku ini mengungkapkan, jika suasan pelatihan diindikasikan adanya kejenuhan dan kebosanan, akan melahirkan :

  • Materi tidak dapat dipahami
  • Antipati terhadap pembicara
  • Penolakan terhadap semua ide
  • “pemberontakan” terhadap acara tersebut
  • Seluruh program akan sia-sia.
Solusi yang ditawarkan adalah, bagaimana mengubah suasana yang tidak kondusif, menjadi suasana yang cerah ceria, maka jawabnya adalah obat penawar dalam bentuk “pemecah kebekuan” alis icebreaker.
Dalam buku ini disajikan sebanyak 26 obat pemecah kebekuan, sesuai jumlah alphabetic, karena kreativitas yang dimiliki penulis, maka sajian diurutkan sesuai dengan alphabetic. Dari A hingga Z]
JUDUL : 100 Permainan Penyegar Pertemuan
PENGARANG : Martin Handoko & Theo Riyanto
PENERBIT : Kanisius Jl. Cempaka 9 Deresan. Yogyakarta 55281 Telp [0274] 563349 E-mail: office@kanisiusmedia.com Web : http://www.kanisiusmedia.com/
CETAKAN : 1 2006
ISBN : 979-21-0996-6
JUMLAH HALAMAN: 286
[Sajian buku ini dikelompokan dalam 7 bagian antara lain:


  • Bagian I : Permainan penghidup, penggerak, dan pencair kebekuan
  • Bagian II : Permainan umpan balik dan penyingkapan sehubungan dengan komunikasi dan relasi antar-pribadi
  • Bagian III : Permainan penghangat dan pengasah otak
  • Bagian IV: Permainan Pelancar perkenalan
  • Bagian V : Permainan Pembuka diri, pendorong, dan penggerak kegiatan
  • Bagian VI : Permainan Pengembang ketrampilan professional
  • Bagian VII: Permainan peningkatan kepribadian dan ketrampilan professional.
BUKU PENDUKUNG
Buku yang senada dengan maksud icebreaker, namun untuk aktivitas outdoor.
JUDUL : Pedoman Praktis Pelaksanaan OUTDOOR & FUN GAMAES ACTIVITIES
PENGARANG : Dandan Riskomar
PENERBIT : MU:3 Books. PT. Mandar Utama Tiga Bokks Division. Wisama Nygra Santana Lt.8.. Jalan Jend. Sudirman Kav 7-8 Jakarta 10220.
CETAKAN : 1 2005
ISBN : 979-331-28-3
JUMLAH HALAMAN:200
[Menurut buku ini, saat ini pendekatan outdoor/fun game activities training menjadi salah satu jalan keluar yang patut dipertimbangkan, inilah membuat pelatihan hidup dan mengalir. Namun tanpa didukung oleh metoda yang memadai, maka pelatihan akan menjadi hampa. Fun games, adalah solusi cerdas yang harus dikedepankan, manakala indikasi kebosanan peserta menampakan diri.
Buku ini mengupas tuntas berbagai permainan, mulai dari aspek komunikasi , kreativitas, hingga penyelesaian konflik. Sebelum memasuki contog-contoh permaianan buku ini membahas berbagai hal yang terkait denngan Outdoor & Fun games, antara lain:

  • Konsep Darasar Program Outdoor dan Fun Games Activities
  • Pola Proses Pembelajaran Orang dewasa/Andragogi
  • Elemen Penting dalam program fun games activities
    Pedoman fasilitator.

Wednesday, March 12, 2008

8 KEBIASAAN POSISTIF PEMBINA MAHASISWA/SEBAGAI TRAINER [8C]



Berikut adalah pola sikap yang menjadi karakter pembinan/trainer/pelatih, atau setidak-tidaknya perilaku dominant, yakni perilaku yang sering nampak ketika proses pelatihan berlangsung. Hal inilah yang harus dijadikan modal pencermatan bagi seorang trainer, adapun perilaku dominant itu antara lain :


  • Calm
  • Courteous
  • Care
  • Cheerful
  • Competent
  • Creative
  • Confident
  • Courage

Calm:
Pola sikap dalam bentuk ketenangan yang dimiliki seorang pembina, dalam situasi dan kondisi yang acapkali berubah, pola sikap tenang ini akan berpengaruh pada diri peserta pelatihan. Dengan ketenangan ini akan memudahkan seorang trainer/mahasiswa mengendalikan dan mengelola tujuan pelatihan
Courteous:
Dalam proses pelatihan tidak boleh moncul keluhan, kecelakaan dan kecacatan, ini sering disebut dengan , zero complaint, zero accident dan Zero Defect. Oleh karenanya seorang trainer harus berperilaku sopan dan bertutur kata yang yang baik. Perilaku inilah yang mengundang simpati trainee, sehingga konsentrasi trainee/mahasiswa akan terjaga
Care:
Perhatian kita yang sungguh-sungguh, serta penuh dengan kehati-hatian, adalah cerminan untuh seorang pembinan yang profesional. Inilah yang disebut dengan atensi, dan aktivitas ini yang mampu menghipnotis trainee/mahasiswa untuk dibawa dalam tujuan pelatihan yang telah direncanakan
Cheerful
Pembina mampu membawakan sajian dalam pelatihan dengan antusias, dan memberi atau mengkondisi yang penuh ‘keriangan’ tanpa adanya tekanan psikologis. Sense of humor diperlukan, namun tetap mengacu pada homur-homur yang releted dengan dengan, topik, dan suasana. Dengan suasana training
Competence:
Minimal ada dua dimensi yang dikedepankan oleh seorang, orang yang mengakui dirinya sebagai pembinan/trainer, yakni:
Pahaman akan subject matter [materi yang diajarkan]
Metodologi penyampaian
Creative:
Memiliki kemampuan yang cepata dalam mencari solusi jika timbul sebuah masalah. Kebosanan peserta merupakan masalah yang paling sering dihadapi. Segera ganti metode lain agar peserta kembali antusias
Confident:
Keyakinan diri akan kemampuan dirinya sebagai pelatih akan membuat peserta merasa mengikuti training dengan benar
Courage:
Pelatih harus berani menghadapi segalan situasi yang baruk sekalipun

BUTIRAN KOMUNIKASI


Komunikasi merupakan kunci sukses ketika seorang –orang berinteraksi. Jalan panjang organisasi, menyimpan pengalaman yang luar biasa, terkait komunikasi. Hampir pasti dan mungkin suadah suratan alias „garis tangan“, bahwa organisasi yang baik selalu dikondisi oleh cantiknya komunikasi. Bertikut adalah butiran-butiran ketrampilan komunikasi yang harus kita miliki, yang sering diseburt dengan 5C.

Butiran yang dimaksud meliputi:
  • Complete,
  • Concise,
  • Consideration,
  • Clarity,
  • Courtesy.

Complete. Informasi, data atau lainnya haruslah disajikan dalam keadaan lengkap dan utuh.Gagasan yang lengkap dan koheren; tidak parsial [atomistic] atau sepotong-potong. Butiran ini mengindikasikan bahwa kesempurnaan komunikasi yang kita bangun hanya bisa dicapai jika kita menyampaikannya dengan lengkap, dan tidak sepotong-potong. Barnagkali mengingatksn kita, berapa kali kita mengalami mis-komunikasi hanya pada persoalan, ketika kita tidak dapat menyampaikan informasi kepada orang lain secara lengkap..
Concise. Syarat kecukupan dalam komunikasi adalah ringkas dan kepadatanannya. Tidak bertele-tele. Sadar bahwa efisiensi waktu amat penting. Siapapun akan senang karena dengan demikian seorang-orang mudah mencernanya, dan tidak bosan mendengar kalimat yang bertele-tele. Kita akan senang kalau mendengar orang lain menyampaikan gagasannya dengan ringkas dan jelas. Namun yang acapkali terjadi banyak orang bicara dengan boros, tidak efisien, mengulang-ulang, bertele-tele, dan membosankan lagi
Consideration. Ketika kita membangun sebuah komunikasi, kita seharusnya dapat menakar lawan bicara kita, apa yang dia inginkan?.Kita harus berrusaha memahami apa kebutuhan orang lain – dan bukan memakasakan diri untuk dipahami orang lain. membangun simpati dan empati pada apa yang dirasakan mitra bicara, dan mau mendengarkan isi hati orang lain.
Clarity. Mengartikulasikan gagasannya dengan jelas dan mengalir, serta membuat kondisi yang kondusif adalah aktivita yang elok. Kejelasan sesuatu yang kita ekspresikan, akan mengurungi salah paham dalam komunikasi. Menggunakan istilah yang sangat umum, dan mudah cerna adalah tuntutan. .
Courtesy. Santun. Persuasif. Menumbuhkan respek, ini butiran yang harus dikedepankan. Bukankah komunikasi adalah membangun suasana yang, mutual respect, mutual responsibility, mutual response dan mutual lainnya. Seorang-orang akan kagum dan menaruh rasa hormat dengan seorang-orang yang selalu menempatkan citarasa „saling“. [saluing tanggap, saling tanggung jawab, saking memberi, dsb]. Kita akan berhasil dalam komunikasi jika selalu bisa berbicara dengan santun (tidak kasar), persuasif (tidak memaksa), dan menumbuhkan respek (dan bukan merendahkan).

Sunday, March 9, 2008

KONFLIK ORGANISASI

PENGANTAR
Sering seorang-orang lupa bahwa keterbukaan memberikan kontribusi yang tiada tara dalam mencapai tujuan organisasi. Bukti menunjukkan kepada kita, bahwa hambatan utama dalam mencapai tujuan organisasi, adalah akibat terjadinya kekaburan dalam tugas (juridical ambiguous). Bentuk kekaburan itu antara lain adalah pendelegasian wewenang yang kurang tegas, serta penuh dengan rahasia. Keterbukaan menghindari hal itu, sisi lain keterbukaan juga menghindari prasangka buruk, yang memicu lahirnya sebuah konflik. Wujud konflik yang sering timbul antara lain adalah konflik dalam diri individu (intraindividual conflict), konflik antar individu (interpersonal conflict) dan konflik organisasi (organizational conflict).
Memahami konflik untuk keterbukaan
Dalam mengelola perguruan tinggi setidak-tidaknya harus didukung oleh pemahaman yang mendalam tentang konflik, karena universitas merupakan tempat terjadinya interaksi antar manusia, dan antar kelompok manusia. Dalam interaksi ini tidak pernah sedikitpun lepas dari sebuah konflik.
Pandangan modern terhadap konflik menyatakan bahwa, konflik muncul disebabkan oleh adanya berbagai aktivitas seperti suatu usaha untuk memperoleh materi, pemenuhan berbagai kebutuhan sosial seperti rasa aman, sosialisasi, kepercayaan diri, penghargaan, status, tanggung jawab atau memperoleh aktualisasi diri dan kekuasaan. Adapun asumsi yang melatarinya adalah sebagai berikut :
M Konflik tidak dapat dielakkan karena hal tersebut dapat terjadi disetiap organisasi.
M Konflik terjadi karena faktor-faktor struktural dalam organisasi khususnya yang berkaitan dengan konflik hirarki (hierarchical conflict)
M Konflik menyatu dalam organisasi, karena itu dengan adanya konflik maka organisasi ditantang untuk dapat berubah dan berkembang ke arah produktif.
M Konflik yang muncul berskala minimal akan mengoptimalkan produktivitas kerja.
Konflik yang sering muncul di Organisasi
Dalam melaksanakan tugas dan wewenang utamanya yang menyangkut interaksi manusia, tidak dapat menghindari munculnya konflik, seperti yang diungkapkan pandangan modern terhadap konflik. Suatu rujukkan yang harus dipahami adalah pencermatan secara dini sumber-sumber konflik, serta pemilihan cara yang tepat dalam mengklarifikasinya. Tentunya rujukkan ini harus disikapi oleh segenap civitas akademika sehingga konflik mampu diminimalkan.
Jika dikaitkan dengan kondisi perguruan tinggi kita, maka terdapat muara-muara konflik yang bila diklasifikasikan dalam tiga macam sumber antara lain :
Konflik dalam diri individu, (intraindividual conflict)
Konflik antar individu (interpersonal conflict)
Konflik organisasi (organizational conflict)
Konflik dalam diri individu
Konflik ini muncul karena :
  • Pertentangan antara perasaan-perasaan (senang-kecewa, gagal dan berhasil, harapan dan putus asa)
  • Adanya dua gagasan atau lebih yang bertentangan
  • Pertentangan dalam peranan yang dimainkan dan peran ambigius. (role conflict)
  • pertentangan dengan tujuan yang akan dicapai (goal deferent)
    Masalah status (status problem)
  • Rintangan- rintangan komunikasi (communication barries)
  • Sifat-sifat individu (individual traits)

Konflik antar individu

Konflik ini muncul karena :

  • Kesalahan persepsi (misperception)
  • Kesalahan dalam pendapat (misopinion)
  • Kesalahan dalam memahami (misunderstanding)
  • Kesalahan komunikasi (miscommunication)
  • Perbedaan tujuan (goal deferent)
  • Latar belakang budaya (culture background)
  • Nilai-nilai (values)
  • Sosial ekonomi (social & economic)
  • Sifat-sifat pribadi (personality traits)
  • Persaingan terhadap sumber-sumber (competition for resources)
  • Ketergantungan tugas (taks independence)
  • Kekaburan tugas (jurisdictional conflict)

Ingin lebih lengkap Klik "KONFLIK"

Komunikasi Organisasi

Pengantar.
Tentunya segera menjadi kesadaran kita semua bahwa interaksi antar manusia membutuhkan salah satu ketrampilan yakni berkomunikasi.
Pada hakikatnya masalah komunikasi tidak asing bagi kita, bahkan berkomunikasi kita lakukan hampir setiap detik bila kita sedang berada dengan sekurangkuranya satu orang lain. Namun yang menjadi persoalan adalah, apakah komunikasi yang kita lakukan itu membawa hasil yang memuaskan? Memuaskan artinya semua pihak yang melangsungkan komunikasi emperoleh kepuasan. Tidak jarang sebuah komunikasi berakhir dengan suatu konflik, karena terjadi distorsi komunikasi (komunikasi yang melenceng). Konflik muncul karena dalam komunikasi dapat menghadirkan salah pengertian (mis understanding), salah intepretasi (mis intepretation), salah persepsi (mis perception) dan salah dalam beropini (mis opinion).
Realitas inilah yang perlu dicarikan jalan pemecahan sehingga setiap melakukan komunikasi akan mencapai nilai komunikasi yang terpuaskan, artinya komunikasi yang memliki nilai "EER" [Efektif, Efisien dan Rasional].
Untuk menuju gagasan ini tentunya tidak semudah membalikkan tangan namun upaya ini diraih dengan memperhatikan "tahapan fisis" berlatih demi derajat kederajat yang lebih tinggi.

TERMINOLOGI
Dalam pencermatan ini komunikasi diartikan suatu kegiatan yang berlangsung terus menerus yang dilakukan oleh orang untuk saling berhubungan dengan orang lain, khususnya pada waktu berhadapan pula. Aktivitas inilah yang kemudian disebut sebgai komunikasi langsung atau "direct communication"
Komunikasi digambarkan bahwa dalam pikiran seseorang terdapat suatu bentuk gagasan. Selanjutnya gagasan tersebut diterjemahkan ke dalam suatu lambang, misalnya bahasa, dan dikirim melalui ucapan kata-kata, sehingga diterima oleh orang lain. Sekarang orang yang menerimanya mulai menterjemahkan lambang-lambang yang didengarnya itu ke dalam gagasan kembali. Inilah yang selanjutnya disebut komunikasi sedang berlangsung, setidak tidaknya satu tahapan, dari seorang tadi kepada orang lain.
Selain bentuk komunikasi yang langsung, terdapat pula komunikasi yang tidak langsung (indirect communication), bentuk komunikasi ini biasanya antara yang melangsungkan komunikasi terpisahkan oleh "medium" tertentu, contoh komunikasi tidak langsung misalnya bila kita sedang menggunakan telepon, atau sedang nonton TV. Selanjutnya untuk lebih memahami terminologi komunikasi tersebut dapat divisualisasikan berikut.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMUNIKASI
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi bila kita berkomunikasi antara lain :
  • Citra Diri [ self image]
  • Citra Lawan Bicara [ the image of the orther]
  • Lingkungan Fisik [physical environment]
  • Lingkungan Sosial [social environment]
  • Bahasa Badan [gesture ]
  • Kondisi

Citra Diri [self image]

Gambaran tertentu mengenai diri seseorang, status sosialnya, kelebihan dan kekurangannya. Gambaran inilah yang memiliki kontribusi terbesar dalam komunikasi. Citra diri akan menentukan ekspresi dan persepsi seseorang.
Citra diri sebagai seseorang yang lemah akan muncul tatkala sedang berkomunikasi, biasanya orang yang lemah ini sulit berbicara bebas, sulit menyatakan isi hatidan pikirannya. Citra diri seorang sebagai "penguasa", seorang komandan atau direktur akan nampak ketika berkomunikasi dengan bawahannya.
Citra diri seorang yang sedang melakukan komunikasi sangat lekat sekaligus kental dengan tampilannya (performance), Citra diri dibutuhkan karena tuntutan lawan bicara yang paling asasi.
Citra diri akan mengantarkan komunikasi yang mengena oleh karenanya membimbing seorang untuk memenuhi syarat komunikasi antara lain :

  • Bersikap sopan, sesuai dengan situasi [ hubungkan dengan kaidah Warung Jamu ]
  • Penuh percaya diri [ hindari ego dan over acting ]
  • Menghargai waktu
  • Tanggung Jawab
  • Rendah hati
  • Berikan kemenangan terbaik lawan bicara.

Ingin lebih lengkap [format doc] Klik "Komunikasi OR"

MOTIVASI BERPRESTASI

MOTIVASI BERPRESTASI
Djoko Aw
di sampaikan pada :
LKMM-TD MAHASISWA UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA


PENGANTAR

Gagasan awal mengetengahkan pokok-pokok pikiran dengan tajuk “Achievement Motivation” ini, dilatari pemikiran bahwa motivasi berprestasi merupakan penggerak utama ketika manusia mulai berpikir tentang sukses, dan meraih sukses.
Para pemikir dunia telah mengakuinya, gagasan demi gagasan yang terkait dengan motivasi telah dituangkan dalam buku-bukunya. Kenyataan menunjukkan kepada kita, akhir-akhir ini, setiap buku yang terbit dengan mengetengahkan motivasi hampir dipastikan menjadi, best seller’.
Motivasi sering pula dimaknakan sebagai modal dasar, yang fungsinya mendorong seorang orang untuk beraktivitas, bahkan mampu melipagandakan potensi dirinya. Kendati bukan barang yang mahal, motivasi telah menjadi komoditas yang layak dijual. Hal tersebut dikarenakan dengan bangkitnya motivasi berprestasi, akan memicu ke segenap arah kegiatan, selanjutnya berujung pada peningkatan kinerja yang tidak terbilang besarnya. Banyak organisasi besara bahkan perusahaan besar dibelahan dunia ini, mengakrabi motivasi sebagai bagian yang penting dalam menggerakkan roda organisasinya.
PILAR MOTIVASI
Terdapat tiga pilar utama yang dapat diperankan seorang-orang terkait dengan motivasi, seperti visual berikut.
  • AROUSAL
  • DIRECTION
  • MAINTENANCE

AROUSAL:
Pilar utama arousal adalah merupakan pilar motivasi yang berperan sebagai “generator” atau pembangkit, oleh karenanya sangat berkaitan erat dengan persoalan munculnya sebuah dorongan [drive], atau lebih tepat dinyatakan sebagai energi dari sebuah perilaku. Misalnya dalam praktik managerial, seorang-orang yang memiliki keinginan untuk mencapai prestasi dalam bidang tertentuà “menjadi pemimpinan yang disegani”, maka kondisi inilah yang membakitkannya.


DIRECTION:
Arah tindakan yang dipilih oleh seorang-orang, merupakan pilar kedua dari sebuah motivasi. Arah inilah merupakan dasar pijak seorang menetukan pilihan [choice], yang selanjutnya pilihan ini akan memberikan atau difungsikan sebagai bingkai seorang-orang mencapai tujuannya.
Misalnya kondisi yang menggambarkan seorang berkeinginan menjadi pemimpin yang disegani, maka pilihan memberikan arah dari sebuah upaya untuk mencapai keinginan tersebut. Pilihan ini dimanifestasikan dalam tindakan, misalnya untuk mewujudkan keinginan menjadi pemimpin yang disegani, maka seorang-orang akan bekerja keras, berkomunikasi dengan baik, menghormati orang lain, dll.
MAINTENANCE:
Pilar yang ketiga adalah maintenance, pilar ini difungsikan untuk merawat agar keinginanan tersebut tercapai. Dengan maintenance ini, sebuah keinginan akan terjaga sehingga seorang-orang akan mengerahkan segenap potensinya pada salah satu keinginan yang telah dipilihnya.

Jika ingin makalah lengkap (format:doc) klik "MOTIBER"