CARI DI SINI !

Google

Monday, November 25, 2013

SLIDE TECHNOPREUNERSHIP - DJOKO AW

   http://www.ziddu.com/download/23353374/Technopreneurship-djokoaw.ppt.html
Jika anda ingin mengetahui slide yang terkait dengan Technopreneurship yang pernah di sajikan di Universitas Negeri Surabaya, silakan klik kambar atau : http://www.ziddu.com/download/23353374/Technopreneurship-djokoaw.ppt.html

Tuesday, August 13, 2013

5 MANTRA SAKTI AGAR PERCAYA DIRI

Cargo Bina Mahasiswa mencoba untuk menghadirkan Eko Sugianto untuk mengiurkan buah pikirnya terkait membangun percaya diri. Kebiasan Eko memang memompa semangat dengan pikirannya yang "cespleng" alias mujarab bin manjur. Kini dia berkreasi dengan menjulurkan ide membangun percaya diri dengan 5 Mantra sakti. Nampaknya ada syarat agar percaya diri yang dibentangkan di sampul belakang buku ini, yang selengakapnya berbunyi sebagai berikut,
,..........................Kamu termasuk orang yang percaya diri? Tunggu dulu. Jangan mengaku sebagai orang yang percaya diri jika ketika berada di antara sekumpulan orang kamu masih:
  • Merasa kelihatan bodoh
  • Merasa setiap orang melihat ke arahmu
  • Merawa wajah merah padam dan terasa panas
  • Merasa gagap saat berbicara
  • Merasa tidak dapat berbicara dengan menarik dan lucu
  • Merasa ingin selalu mengakhiri kontak mata
  • Merasa sungkan kepada orang yang belum dikenal
  • Merasa tanganmu berkeringat
  • Merasa bibir terasa kering
  • Merasa bahwa tidak ada orang menyukaimu
Lalu apa saja buku ini ?

MANTRA 1:
Malu adalah Masa Lalu Bagiku (di halaman 7)
MANTRA2:
Aku adalah Pribadi yang Unik (di halaman 18)
MANTRA 3:
Aku Tahu Hal Itu (di halaman 25)
MANTRA 4:
Berkenalan adalah Hal yang Menyenangkan (di halaman 28)
MANTRA 5:
Presentasi itu Mudah (di halaman 96)

DATA BUKU
JUDUL:  5 Mantra Sakti agar Percaya Diri
PENULIS : Eko Sugiarto
PENERBIT: Khitah Publishing. Jalan Godean 15 Yogyakarta 55563
ISBN: 978-602 -8627-7-5
HALAMAN : 13 x 19 Cm ; 116 halaman
 
 




Friday, October 19, 2012

MENUMPAS KEKERASAN PELAJAR DAN MAHASISWA

Bak drama yang tak terputus, dari episode ke episode. Saat ini bangsa kita disungguhi sajian yang memilukan. Jakarta Ibu Kota negara dijadikan tempat pertunjukkan, hampi tiada hari yang tak terjadi. Tawuran hadir tanpa henti. Dan pantas dijuluki dengan "tagline"  TIADA HARI TANPA TAWURAN". Nun jauh disana MAKASAR yang dulu disebut dengan UJUNG PANDANG, juga langganan tawuran, antar mahasiswa, antar jurusan, antara fakultas, bahkan antar kampus.
Orang tua tentu was-was, takut kegiatan berlanjut. Ada yang mencurigai, bahwa kejadian ini by design, di skenario, agar pewaris bangsa ini tidak rukun. Memang sebuah kata kunci. Menghancurkan Indonesia itu tanpa Nuklir yang berdaya ledak tinggi, namun cukup dengan menumbuhkan benih perpecahan antara generasi muda.
Nuklir tentu mahal, namun virus pecah belah membuat bangsa porak poranda adalah "murah meriah".
Buku ini bisa diacu, menggabarkan tentang sumber kekerasan bisa muncul karena perpeloncoan.

Saturday, September 22, 2012

Wednesday, September 19, 2012

WAWASAN PRESTATIF



BERWAWASAN PRESTATIF
Oleh : Djoko Adi Walujo.
OPSPEK MAHASISWA BARU UNIVERSITAS PGRI ADIBUANA SURABAYA
Kampus Pagi-Bunga Matahari Bersemi.

Pengantar:

                 Sungguh celaka jika hingga saat ini kita masih mengedepankan intuisi dalam bertindak, karena perkembangan teknologi yang begitu deras memungkinkan kita dalam bertindak selalu mensinergikan wawasan dari segenap dimensional. Merangkai pemikiran rasional dan dironce dengan realitas sosial adalah jawaban atas kemajuan teknologi yang kita rasakan saat ini.
               Dikaitkan dengan kemajuan teknologi yang kehadirannya selalu dibarengi dengan pola pikir dan pola laku efektif dan efisien, serta manifestasinya selalu menyeret hadirnya pola sikap manusia yang cenderung bersaing dan bertanding dan meninggalkan bersanding. Keadaan ini mengondisi setiap manusia secara terus menerus memperbaiki citra dirinya agar dapat eksis di kondisi ini.
              Menjaga eksistensi diri sama halnya menjaga pola pikir dan pola tindaknya yang sewaktu-waktu seirama dengan tuntutan perkembangan zaman, tanpa meninggalkan akar budaya. Untuk mencapai hal ini, maka sangat bijak jika manusia itu selalu on the track pada wawasan prestatif. Karena wawasan prestatif akan memproduk manusia-manusia profesional dengan daya juang tinggi, tanpa harus meniadakan lainnya.

Makalah lengkap silakan KLIK

TOLAK UKUR KEBERHASILAN KEGIATAN-LKMM TK DASAR


TOLAK UKUR KEBERHASILAN REKA KEGIATAN
Disampaikan pada acara LKMM
Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia
Oleh
DJOKO ADI WALUJO

PENGANTAR:
             Setiap organisasi yang menjalankan suatu kegiatan selalu mengharakan mencapai keberhasilan dan setidaknya diupayakan agar nir resiko. Untuk mencapai hal tersebut harus dibuat perencanaan yang matang, karena tanpa rencana ibarat orang berkelana tanpa arah dan tanpa bekal kompas dan peta.
            Keberhasilan dicapai jika dimulai dari perencanaan yang matang kemudian ditindak lanjuti dengan pengendalian (control) dan pada akhirnya dilakukan evaluasi atas tindakan. Sukse akan dicapai dengan kendali yang dikonfirmasikan dengan tolok ukur keberhasilan.
            Tolak ukur keberhasilan dicapai jika diwali dengan perumusan tujuan yang bagus.

Saturday, April 23, 2011

PROBLEMA ANARKIS DIKALANGAN GENERASI MUDA



Topik diskusi kita saat ini sebenarnya dapat ditafsirkan sudah berbuat anarkhis, karena dapat dianggap/seakan-akan secara sewenang-wenang telah menuduh bahwa generasi muda itu berbuat atau selalu berada didomain yang beranah anarkhis. Sebenarnya anarkhisme itu yang paling banyak atau yang paling sering dilakukan oleh penguasa, oleh rejim, dan yang memiliki peluang justru seorang-orang atau lembaga yang sangat berwenang/berkuasa. Karena sewenagannya maka akan berbuat sekenanya atau setidaknya “se-enaknya” , hal inilah yang dapat dikategorikan berbuat anarkhis. Tetapi saya memandang bahwa judul yang diminta oleh panitia ini, karena di nuansai oleh beberapa fenomena kekerasan atau yang dianggap terkategorikan kekerasan, sedangkan pelakunya didominasi oleh oknum generasi muda. Pada hakikatnya dalam pandangan politik anarkhis itu, adalah tindakan/perbuatan kesewenangan dibalik sebuah otoritas. Anarkhis itu sering dilakukan oleh seorang-orang atau sekelompok orang yang superioritas kepada yang inferioritas. Tentunya hal ini yang terjadi pada terminologi dalam teori politik. Dalam diskusi ini lebih cenderung anarkhis dilihat sebagai sebuah fenomena kekerasan yang dilakukan oleh para oknum generasi muda, misalnya : · Demonstrasi yang brutal, merusak dan melontarkan kata-kata yang menyerang pribadi (character assignation). · Tawuran antar gang, tawuran antara pelajar, tawuran antar mahasiswa, dll. Dan dalam diskusi ini akan saya manfaatkan untuk iur pikir (share of information) terkaita dengan fenomena tersebut serta mencerai kesepakatan dalam memandang fenomena tersebut. Kemudian melalui forum dialogis dicarikan sebuah solusi cerdas, sehingga munculnya fenomena anarkhis khususnya di Propinsi Jawa Timur ini dapat diurai. MEMAKNAI ARKHISME Pada hakikatnya Anarkisme, adalah sebuah pemahaman yang mempercayai bahwa negara, pemerintah dengan otoritasnya adalah lembaga-lembaga yang hanya akan menumbuhsuburkan penindasan terdahap kehidupan. Oleh karenanya negara beserta perangkat-perangkatnya harus dimusnahkan. Anarki bertujuan untuk menciptakan masyarakat tanpa hirarki, karena dipercayai hirarki hanya akan menciptakan kekuasaan, dan kekuasaan akan melahirkan penindasan. Dalam pemahamannya, anarkisme banyak dikutip oleh berbagai media (terutama di Indoneisa) sebagai aksi kekerasan, namun hal ini sepenuhnya salah. Penganut anarkis adalah orang-orang yang mencintai kebebasan, menjunjung tinggi keadilan dan kesetaraan, serta cinta damai, tapi memang seorang anarkis dapat menggunakan cara-cara kekerasan demi mengaspirasikan haknya, hal itu dilakukan sebagai cara terakhir untuk melawan negara, ketika para kaum borjuis telah menerapkan kekuasaan fasistik dalam menjalankan kekuasaannya. Apabila kaum anarkis kebebasannya terbelenggu maka disitulah mereka akan bertindak, berdasarkan teori alam, setiap adanya suatu aksi maka akan timbul suatu reaksi yang sama atau bertentangan. Tapi kaum anarkis tidak hanya melakukan cara kekerasan, ada juga yang menerapkan cara-cara yang lebih damai atau lebih dikenal dengan istilah anarkis-pasifisme. Yang mengaspirasikan diri mereka melalui karangan bunga, puisi, lagu-lagu dan aksi non-kekerasan lainnya seperti yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi yang menentang pemerintahan Inggris guna mendapatkan kemerdekaannya. Seperti Martin Luther yang membela kaum kulit hitam atas penindasan kulit puti di Amerika Serikat. Kemudian mengapa pada jaman sekarang ini paham anarkis sering disebut sebagai istilah yang identik dengan aksi kekerasan?
PERGESERAN MAKNA ITU
Pergeseran makna ini telah terjadi bertahun-tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1886 di Chicago. Dimana pada saat itu terjadi demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh para kaum buruh menuntut pemerintah Amerika untuk menerapkan jam kerja standar pekerja, yaitu 8 jam. Saat itu memang Chicago adalah pusat dari gerakan anarkis di Amerika sehingga gerakan mogok buruh dimobilisasi oleh mereka. Demo yang dimulai pada tanggal 1 Mei 1886 berlanjut terus dan berlangsung damai sampai tanggal 3 Mei. Tapi pada tanggal 3 mei terjadi keributan antara kaum buruh dengan kepolisian Chicago. Entah kenapa, polisi Chicago menembaki para demonstran, ada minimal 6 buruh meninggal dunia ditembus peluru pada saat itu. Akibat dari peristiwa tersebut, kaum anarkis Chicago bereaksi dengan menyebarkan selebaran yang mengajak segenap kaum buruh untuk turun ke Plaza Heymarket keesokan harinya, yang peristiwa itu dikenal sebagai Haymarket Riot. Demonstasi yang dilakukan esok harinya oleh kaum anarkis dan buruh dimulai dengan damai. Seorang anarkis, August Spies tampil sebagai pembicara pertama. Sampai pembicara terakhir pun, demonstrasi tetap berlangsung damai, tapi entah darimana tiba-tiba ada bom molotov melayang ke arah polisi. Akibatnya, polisi lansung menembaki kaum buruh di Hymarket. Puluhan polisi menderita luka-luka dan minimal 8 dari mereka meninggal dunia. Kebanyan dari penderita luka akibat tembakan pistol. Setelah kerusuhan tersebut, 8 anarkis Chicago termasuk Spies ditangkap atas tuduhan pembunuhan. Lalu dimulailah proses pengadilan atas para anarkis itu, yang komposisi juri pengadilan terdiri atas para kaum kapitalis; pengusaha, rekan-rekan mereka, serta kerabat polisi. Tentu proses pengadilan yang penuh kongkalikong bukan? Bahkan sebelum pengadilan dimulai, negara tidak bisa menghadirkan bukti solid yang menunjukkan bahwa bom dilempar oleh kaum demonstran, dan begitu miris ketika hanya 3 dari 8 anarkis yang hadir pada saat demonstrasi, serta pengadilan tidak bisa membuktikan bahwa adanya pidato yang bertujuan memprovokasi yang dikemukakan oleh mereka kepada kaum demonstran. Pada tanggal 19 Agustus 1886, 7 anarkis termasuk spies divonis hukuman gantung, dan seorang diantaranya dihukum penjara 15 tahun. Tapi setelah mendapat tekanan dari dunia internasional, maka 2 dari 7 anarkis diberi pengampunan dan hanya divonis penjara seumur hidup. Karena tidak rela dirinya dibunuh oleh negara, salah seorang yang masih harus dihukum mati melakukan bunuh diri di dalam penjara 11 November 1887; Spies dihukum gantung bersama 3 anarkis lainnya, sekitar 600.000 buruh menghadiri pemakaman mereka yang telah dibunuh oleh negara. Setelah 6 tahun lamanya, negara dengan suci mengakui kesalahan mereka dalam mengeksekusi para anarkis. Hari itu, gubernur Chicago membebaskan 3 anarkis yang tersisa karena mereka tidak bersalah atas kerusuhan Haymarket. Penyelidikan-penyelidikan selanjutnya juga menunjukkan bukti bahwa bom di Haymarket justru dilempar oleh agen polisi yang menyusup di antara para buruh. Warisan dari gerakan buruh Amerika, khususnya Chicago, yang lebih dari 1 abad yang lalu itulah yang selalu kita peringati sebagai May Day atau Hari Buruh. Sejak saat itulah anarkisme identik dengan kekerasan. Media-media mainstream di Amerika, yang dikuasai oleh kaum kapitalis, langsung gencar mengkampanyekan anarkisme identik dengan pengeboman di Haymarket. Pemahaman anarkisme yang menjadi suatu hal yang sama sekali salah arah BAGAIMANA ANARKIS DI INDONESIA Nampak negeri kita telah mengikuti patron (pattern) dari apa yang terjadi di Chicago, bahwa anarkis itu identik dengan kekerasan dan kadangkala bukan dilihat dari kacamata jernih, bahwa luapan kekerasan itu adalah manifestasi dari sebuah reaksi. Ketidak puasan, mekanisme komunikasi yang buntu, tersumbat atau disumbat, bahkan ada indikasi “naïf” bahwa kekerasan dimunculkan hanya karena kepentingan. Anarkis di negeri kita seperti bola salju “ Snowball”, semakin lama semakin besar, karena masyarakat sangat “permisif”, semakin naïf ketika kekerasan tertangkap kamera televisi dan menjadi santapan pemberitaan. Televisi yang sering mengetengahkan liputan terkait dengan kekerasan justru secara significan dicari oleh pemirsa. Bahkan media cetak pun akan menayangkan hal tersebut. Realitas ini mengondisi terciptanya budaya baru, yakni bahwa solusi yang paling cepat mengurai masalah, jika dilakukan dengan cara-cara kekerasan. Kemudian juga terjadi budaya yang dapat diangggap aneh, karena masalah akan diurai, kalau telah muncul indikasi kekerasan. Sikap antisipatif, sikap proaktif lebih rendah ketimbang sikap reaktif. Mohon maaf diskusi ini dapat dikatakan reaktif, kalau hanya membicarakan data historis (expost facto)/masa lalu. Sebaliknya diskusi ini dikatakan proaktif, manakala difungsikan untuk upaya-upaya pencerahan sekaligus mencari jalan terbaik terciptanya penggulangan. KAPAN ANARKISME SELESAI Sampai saat ini belum ada resep yang paling ampuh, hanyalah pendekatan persuasi saja yang dapat meredam. Anarkisme akan mati dengan sendirinya ketika hak Asasi, demokrasi yang berbasis transparansi, keadilan, persamaan di munculkan. Keadilan yang mampu melemahkan anarkisme. Namun yang perlu diingat anarkis tidak akan lenyap secara permanen, seperti halnya konflik yang muncul secara laten. Ketika rasa keadilan terusik nadi anarkis akan secara otomatis bergerak, dan tidak hanya penumpang yang “berkarcis”, tetapi penumpang “gelap” yang sengaja mereguk kepentingan akan memperparah. SOLUSI Terkait dengan kebijakan, serta dari audience sasaran, maka solusi yang tepat dalam mengahapi anarkis adalah proses penyadaran, arahnya yang harus menjadi mentor adalah para Pembina generasi muda, atau setidaknya dari unsusr pemerintah yang membidangi generasi. Proses penyadaran (awareness) diawali dari pemahaman istilah yang satu ini. “Learning Process”. Generasi muda akan bisa berubah dan menerima pemahaman baru, tidak serta merta. Tapi perlu tahapan, dan pelaku perubahan itu adalah berawal dari para pembina generasui muda, atau instansi pemerintahan yang terkait dengan pembinaan generasi muda. Tahapan antara lain adalah, “Know”, “Believe”, “Attitude”, “Behavior”, “Habit” dan “ Culture”. Know: Semua stimuli dari akibat interaksi kita dan lingkungan, akan menjadi bahan dasar untuk mengetahui sesuatu, dan selanjutnya berfungsi untuk memicu munculnya perilaku. Workshop atau rapat koordinasi kali ini adalah wahana menstimuli, agar meransang munculnya perilaku baru. Yakni menerima atau menolak, bahwa anarkis dapat ditanggulangi, diredam dan dikendalikan Believe: Setelah kita mengetahui sesuatu yang baru, yang sudah disaring oleh keyakinan kita. Keyakinan yang bersumber dari nilai-nilai yang terbentuk di lingkungan. Jika hal itu bermakna, maka kita pasti menerimanya.Misalnya, Apakah jika anarkis itu diredam lebih member manfaat ketimbang mudhlarat. Attitude : Sinergi antara apa yang kita ketahui dengan apa yang kita yakini, dan akhirnya membuahkan perilaku. Mka setidaknya para Pembina generasi muda telah memiliki perilaku yang utuh terkait dengan anarkis, bahwa anarkis harus dapat dikendalikan. Behavior :: Perilaku yang ditampilkan oleh seorang Pembina generasi muda, adalah akumulasi dari Know, believe dan Attitude. Ketiga paduan tersebut, acapkali disebut sebagai “software”, sedangkan behavior adalah ‘hardwarenya” Jika seorang Pembina Generasi muda dalam memahami atau mencermati anarkisme tidak melalui proses know, believe, hingga attitude, maka bekerjanya akan setengah hati. Inilah yang akhirnya muncul sikap permisif, dan toleran terhadap kekerasan Habit : Perilaku yang didemonstrasikan secara konsisten adalah kebiasaan [habitual], merupakan bentuk kristalisasi perilaku. Jika hal ini terbentuk, maka semuanya akan menjadi jalan tanpa hambatan, Cultutre: Budaya adalah cerminan dari nilai-nilai yang diketahui dan diyakini. Budaya merupakan pemantapan dari kebiasaan [habitual]. Pada tahapan inilah, perilaku seorang-orang sudah melekat dan sulit untuk diubah kembali, kendati ada nilai-nilai yang baru.Pengalaman yang kita tarik dari pemahaman ini adalah, bahwa workshop ini, tidak serta merta langsung berubah budaya yang sudah membatu dan membeku. Namun tersimpan sebuah kesadaran, yang menyatakan bahwa workshop/rapat koordinasi kali ini adalah utaian dari “learning process” DIMULAI DARI PEMBINA GENERASI MUDA
MEMBANGUN ABILITY TO RESPONSE
“Pembina Generasi Muda juga manusia“. Manusia yang memiliki kemampuan untuk menanggapi adalah manusia yang mampu mengendalikan kehidupannya, sehingga dia mampu menentukan tindakannya sendiri. Terkait dengan Pembina genersi muda, maka dalam membangun citranya sedikitnya, ada lima kemampuan yang harus dikantongi. Kemampuan-kemampuan itu adalah
  • Ability to fact [kemampuan memahami fakta]
  • Ability to basic knowledge [kemampuan memahami dasar-dasar pengetahuan]
  • Ablity to evaluation [kemampuan mengevaluasi]

  • Ability to analysis [kemampuan analisis]
Ablity to response [kemampuan menanggapi]. adalah kemampuan yang muncul, akibat kemampuan-kemampuan lainnya, seperti: kemampuan memahami fakta; kemampuan memahami dasar-dasar pengetahuan, kemampuan evaluasi dan kemampuan analisis] Ability to fact [kemampuan memahami fakta]; Jika kemampuan ini telah ada pada diri seorang pembinan generasi muda, maka pengalaman empirinya yang akan mengendalikan apakah sesuatu itu yang diterima inderanya memiliki nilai-nilai manfaat. Jika hal itu tidak menjadikan sebuah ancaman bagi dirinya, dan justru memiliki manfaat besar bagi dirinya, maka akan diterimanya. Apakah Anarkis yang terjadi pada generasi muda itu, sebuah ancaman bagi eksistensi para Pembina generasi muda, atau setidaknya dalam berbangsa dan bernegara? Ability to basic knowledge [kemampuan memahami dasar-dasar pengetahuan] Pemibina Generasi Muda hampir semuanya telah memiliki kemampuan ini, tidak ada seorang pun yang mengatakan tidak. Semua Pembina Generasi Muda telah memilikinya, telah menyadarinya, dan merupakan bagian dari fungsi kerjanya. “Jika” selalu diikuti “Maka”. Jika seorang Pembijna Gemnerasi Muda enggan mengambil langkah antisipatif yang cepat akurat, maka akan disisihkan oleh zaman. Ability to evaluation [kemampuan mengevaluasi] Kemampuan ini adalah, bagian yang melekat pada profesi Pembina generasi muda. Setiap berpikir bertindak, dan berperilaku selalu mengedepankan kemampuan ini. Tentunya ketika menjalankan fungsinya, seorang Pembina Generasi Muda selalu memberikan pertimbangan akan manfaat, dan keruginya. Menimbang kemungkinan risiko yang dihadapinya. Ability to Analysis [kemampuan analisa] Merupakan kemampuan dalam mengurai permasalahan secara detil, dan menggunakan berbagai dimensi ketika memandang sesuatu masalah. Pembina Generasi Muda sadar atau tidak telah lama melakukan pembinaan berbasis analisis. Ability to response [Kemampuan menaggapi] Adalah kemampuan yang muncul, akibat kemampuan-kemampuan lainnya, seperti: kemampuan memahami fakta; kemampuan memahami dasar-dasar pengetahuan, kemampuan evaluasi dan kemampuan analisis. Bagi seorang Pembina Generasi Muda, kemampuan mananggapi berkaitan dengan problema anarkis adalah memberikan pencitraan sebagai Pembina antara lain: 1. Kemampuan dalam memahami kompetensi [competency] 2. Kemampuan untuk meciptakan visi [Vision] sebagi harapan dan cita-cita 3. Kemampuan untuk memberikan makna pada hidupnya yang diwujudkan dalam bentuk pemaknaan misi [Mission] hidupnya 4. Kemampuan menggunakan kompetensinya untuk mewujudkan visi dan misinya dalam bentuk strategi yang dijalankan 5. Kemampuan menterjemahkan strategi sebagai aksi. PENUTUP Dalam pengendalian tindakan “anarkis”atau kekerasan tidak berdiri sendiri (atomistic), tetapi menyeluruh (holistic). Semua yang memiliki keterlibatan (stakeholder) harus memiliki visi yang sama, kemudian semua disiplin ilmu dilibatkan. Adapun yang sangat memiliki kontribusi terbesar antara lain: 1. Pendidikan Karakter (Character Building) 2. Keteladanan (Ada adigium yang mengatakan, Verba movent-Exempla manent) 3. Situasi lingkungan yang menyenangkan
*Bahan paparan ini banyak diambil dari dunia maya/internet
**Sasaran paparan (audience), para Pembina Generasi Muda, atau pengambil kebijakan terkait generasi muda
***djoko adi walujo: Salah satu anggota dewan pendidikan propinsi jawa timur, mantan anggota dewan Pembina perpustakaan masjid propinsi jawa timur, mantan wakil ketua PGRI propinsi jawa timur, mantan Gugus Pemikir Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan (YPLP-PGRI) pusat, sekretaris ISPI- Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia propinsi jawa timur, sekretaris badan penyelenggara Universitas Adi Buana Surabaya, Pengurus Pusat Persatuan Alumni GMNI, wakil ketua Partai GOLKAR propinsi jawa timur bidang seni dan budaya. Memiliki International Certificated untuk pelatihan guru-guru zone Asia-Pacific, sedang menyelesaikan doctor business administration di JOSE RIZAL UNIVERSITY OF PHILIPPINA..